Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat merupakan peninggalan arkeologi dari tradisi Zaman Megalitikum (Batu Besar) berupa punden berundak. Situs yang letaknya pada ketinggian sekitar 895 meter dpl ini adalah situs punden berundak terbesar di wilayah Asia Tenggara.
Para pengunjung situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. (Mahandis Y Thamrin/NG).
Setelah sempat menyita perhatian publik dengan
berita seputar adanya struktur piramid di dalam bukit, penelitan situs
megalitikum Gunung Padang akan segera dilanjutkan.
Kelanjutan penelitian terutama mau membuktikan riset oleh Tim Katastropik Purba--yang dibentuk selaku Stafsus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana--yang sampai kepada kesimpulan piramid. Ini diungkapkan dalam ceramah arkeologi bertajuk "Ada Apa di Gunung Padang" yang berlangsung di lokasi situs itu, Sabtu (17/3).
Menurut pendiri Masyarakat Arkeologi Indonesia, Dr. Ali Akbar, situs prasejarah penting seperti Gunung Padang perlu ditangani secara khusus. Penanganan khusus tersebut direkomendasikan agar melibatkan para ahli lintas bidang ilmu, lintas kelembagaan yang bergabung, demi hasil yang maksimal dalam tempo minimal.
"Tidak hanya mencakup penelitian menggunakan metode dan teknik-teknik arkeologi serta didukung metode ilmu lainnya, melainkan pula dengan pengelolaan sumber daya budaya yang berguna bagi kepentingan umum," jabarnya.
Suatu metode penelitian yang lebih komprehensif dibutuhkan, sebab memang terdapat perbedaan mendasar antara hasil penelitian terakhir (2011-2012) dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
Dr. Ali Akbar dalam pemaparan ceramahnya menunjukkan beberapa titik penting Gunung Padang
Riwayat penelitian situs yang memiliki keseluruhan luas area 2.825,25
meter persegi itu bermula di tahun 1914 ketika ditemukan arkeolog
bernama NJ Krom. Kemudian baru pada 1979 situs ditinjau kembali oleh
Puslit Arkenas dan pada 1985-1989 dilakukan pemugaran oleh Proyek Sasana
Budaya Jakarta. Baru pada 2001, Disbudpar Jawa Barat melakukan studi
teknis mengenai pemugaran.
Lantas pihak Balai Arkeologi Bandung pada 2002, 2004, 2005
melaksanakan rangkaian penelitian dengan survei, ekskavasi, analisis
petrologi dan petrografi. Namun belum pernah dilakukan uji karbon untuk
mengetahui usia pasti situs ini.
Akbar menuturkan lagi, kesimpangsiuran terjadi karena penelitian terhadap situs Gunung Padang tergolong jarang. "Jarang, dan selalu ada kekosongan waktu. Sehingga pekerjaan belum tuntas, penelitian juga tidak ada tindak lanjut. Unit maupun instansi telah melakukan penelitian secara bersungguh-sungguh sejak lama, tetapi sifatnya sporadis, dan juga tidak berkelanjutan, tidak mendalam, tidak berskala besar."
Ia pun berharap, hasil penelitian dapat diarahkan pada pemugaran atau rekonstruksi situs yang pada nantinya bisa dimanfaatkan dan dikunjungi orang banyak.
(Gloria Samantha)
Kelanjutan penelitian terutama mau membuktikan riset oleh Tim Katastropik Purba--yang dibentuk selaku Stafsus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana--yang sampai kepada kesimpulan piramid. Ini diungkapkan dalam ceramah arkeologi bertajuk "Ada Apa di Gunung Padang" yang berlangsung di lokasi situs itu, Sabtu (17/3).
Menurut pendiri Masyarakat Arkeologi Indonesia, Dr. Ali Akbar, situs prasejarah penting seperti Gunung Padang perlu ditangani secara khusus. Penanganan khusus tersebut direkomendasikan agar melibatkan para ahli lintas bidang ilmu, lintas kelembagaan yang bergabung, demi hasil yang maksimal dalam tempo minimal.
"Tidak hanya mencakup penelitian menggunakan metode dan teknik-teknik arkeologi serta didukung metode ilmu lainnya, melainkan pula dengan pengelolaan sumber daya budaya yang berguna bagi kepentingan umum," jabarnya.
Suatu metode penelitian yang lebih komprehensif dibutuhkan, sebab memang terdapat perbedaan mendasar antara hasil penelitian terakhir (2011-2012) dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
Akbar menuturkan lagi, kesimpangsiuran terjadi karena penelitian terhadap situs Gunung Padang tergolong jarang. "Jarang, dan selalu ada kekosongan waktu. Sehingga pekerjaan belum tuntas, penelitian juga tidak ada tindak lanjut. Unit maupun instansi telah melakukan penelitian secara bersungguh-sungguh sejak lama, tetapi sifatnya sporadis, dan juga tidak berkelanjutan, tidak mendalam, tidak berskala besar."
Ia pun berharap, hasil penelitian dapat diarahkan pada pemugaran atau rekonstruksi situs yang pada nantinya bisa dimanfaatkan dan dikunjungi orang banyak.
(Gloria Samantha)